Muhdi Eksportir Kripik Singkong Lutvi
THEISMILENEWS.com - Deli Serdang | Cemilan kripik siapa yang tidak doyan (suka-red), tidak hanya anak muda tapi juga semua usia. Banyak jenis kripik sangat digandrungi, mulai dari kripik kentang, kripik jagung hingga kripik singkong atau ubi dikemas dengan bagus, sehingga terlihat snack berkualitas.
Peluang besar pengumpul dolar tidak dilewatkan begitu saja. Sebelum mengawali usaha, salah seorang pujakesuma (putra jawa keluyuran Sumatera) Muhdi datang ke Sumatera Utara tahun 90-an bekerja sebagai kebersihan masjid di Medan sampai tahun 2000. Tanpa pengalaman Dia harus merangkak memulai bisnis keripik singkong ditahun 2001-2003, menjadi pengusaha kripik kecil-kecilan dengan membuat kripik singkong 5 kg, tapi sepertinya kurang berhasil, karena tidak terampil, sehingga singkong digoreng kurang diminati.
“Mungkin latar belakang pendidikan saya sarjana agama, jadi tidak tahu cara pembuatan kripik singkong. Pertama kali menggoreng, kadang masak, kadang gosong, Tetangga protes dan kasi saran kalau mau dijual jangan kayak begini. Kalau putih, putih semua jangan ada merah sampai merah kali kalau merah kali katanya nanti enggak laku,” ungkapnya mengaku sebagai Pujakesuma (putra jawa keluyuran sumatera).
Pada akhirnya pria murah senyum ini pulang kampung di Jawa Tengah tahun 2007, melihat usaha kripik singkong menggunakan mesin pemotong ubi dengan banyak tenaga kerja. Dengan niat yang kuat mengembangkan usaha kripik singkong dengan membeli mesin pemotong untuk dibawa ke rumahnya Tuntungan Kecamatan Pancurbatu Deliserdang-Sumut (tempat usaha pabrik pembuatan keripik singkong).
Pekerja menggoreng singkong jadi kripik
Bersamaan itu, tahun 2005 usaha mulai berkembang dan menggunakan tenaga kerja lingkungan pabrik. Semua dikerjakan sendiri, mulai dari menggoreng, mengemas dan memasarkan disekolah-sekolah dan ditahun 2010 mulai merambah ke pasar modern seperti Indomaret dan membuka toko snack. Tapi kalau Indomaret tidak bertahan lama, karena sistemnya koordinasi dan jangka waktunya itu sampai 14 hari, bisa juga 3 bulan. Bahkan sudah masuk berbulan-bulan, belum dapat yang namanya profit.
Kemudian tahun 2015 mulai memasarkan ke Korea Selatan perkembangan pertama 1 kilo. Sejarahnya gini ada orang Korea yang main bola Golf. Kedinya sering beli satu kg setiap minggu, tapi dari pabrik dikasi 2 bungkus (1 untuk orang korea dan satu lagi bonus untuk keluarganya). Ternyata kedi itu memberikan dua kilo, maksudnya uangnya untuk biaya tambahan.
Budaya orang luar tidak mau nyimpan makanan di rumah, sehingga yang 1 kilo dikonsumsi dan sekilo lagi dikirim kekeluarganya di Korea Selatan. Ternyata saat kripik singkong dirasa, keluarga di Korea heran ada crispy. Kebetulan bapaknya di Korea Selatan jualan buka supermarket, pembelinya dikasih produk kripik singkong, ternyata banyak yang berminat di Korea. Selama ini orang luar taunya snack keripik kentang.
Setelah adanya bimbingan dan wawasan dari kelompok UMKM Sumut, usaha kripik singkong mulai diseriusi diawali dari menjual kepada orang Korea yang akhirnya dimulailah kesepakatan bersama pengiriman kripik singkong ke Korea Selatan, tidak dalam bentuk kemasan. Pengiriman pertama 17 kotak (17 kg) lewat kantor Pos dengan harga Rp 50.000, ternyata ongkos kirim sampai Korea melalui kantor Pos biaya 1 kotak Rp 350.000, sementara barangnya cuma Rp 50.000, ternyata ongkos kirim lebih mahal dari harga barang yang dikirim.
Disituasi seperti itu, seharusnya pemerintah daerah memberi kemudahan dan dukungan dari segala lini, agar bisa lancar usahanya, karena dari usaha tersebut, banyak tenaga kerja yang ditampung membantu pemerintah mengatasi pengangguran. Apalagi ekspor kripik singkong ke Korea Selatan dimulai sejak tahun 2015 dan tahun 2019 mulai ekspor ke Malaysia, ketika itu ekspor melalui PT orang lain, tapi sekarang sudah punya PT sendiri diberi nama 'kripik singkong Lutvi' diekspor sendiri tanpa pihak ketiga.
Namun yang menjadi kendala saat ini bahan baku (singkong) masih belum memenuhi kebutuhan, karena singkong yang dibutuhkan untuk ekspor keripik 5-6 ton per hari, dengan bahan baku 120 ton singkong per hari, sementara belum ada jaminan dari petani untuk menyediakan bahan baku." Selama ini bahan baku singkong masih didominasi dari Deli Serdang dan Sergai hanya sebagian, sebagian lagi ditanam singkong untuk tepung tapioka," ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan ekspor keripik singkong, menurut Muhdi, butuh areal lahan tanaman singkong sekira 60 hektar, tidak perlu disatu lokasi tapi bisa diberbagai lokasi/daerah, karena dari petani sendiri masih belum kontinu menanam singkong. " Petani itu malas menanam lagi, karena biaya tanam dengan harga jual tidak sebanding. Pertama kali dibuat itu harganya Rp 1000 per kg, sementara biaya produksi sudah Rp 800 sehingga petani cuma dapat Rp 200," ujarnya.
Masalah penanaman singkong, ayah sepasang anak ini pernah mengusulkan kepada pemerintah kabupaten agar membantu menggerakan petani menanam singkong, tapi masalahnya terkadang petani tidak konsisten. Padahal soal harga dan jumlah sudah kita tentukan, petani tinggal mengolah aja tapi di lapangannya agak sulit juga. Diharapkan pemerintah ikut memikirkan soal lahan agar tidak hanya fokus pada jagung. "Mana tahu ada lokasi lahan tidur yang belum terealisasi, dapat dimanfaatkan tanam singkong agar pembelian singkong bisa langsung ke petani, tidak lagi melalui agen," harapnya.
Kendala lain menyangkut yang dihadapi masalah transportasi kapal atau pengapalan kontainer keripik singkong dieskpor keluar, karena harus antri menunggu lama, akan mengganggu kualitas barang apalagi barang makanan.
Eksportir keripik singkong ini berharap pemerintah lebih memperhatikan pelaku usaha UMKM yang sudah naik level ketingkat ekspor membantu promosikan produksi dalam negeri ke luar. " Jika ada pameran produk Indonesia ke luar negeri agar fokus pada satu produk unggulan di Indonesia. Contoh kalau kripik event-nya yang dipamerkan segala jenis kritiknya. Jangan pengusaha kripik dimasukan dalam event promosi tenunan produksi Indonesia atau produksi kopi. Kalau evennya kopi yang ditampilkan kopi saja, jangan dicampur baur. Kemudian pemerintah sudah harus mengantongi nama dan Nomor kontak pengusaha, agar lebih mudah ketika ada event yang akan dilakukan," ujarnya.(Cut Mery)


Komentar
Posting Komentar